Jumat, 06 Mei 2016

BABAD DESA SAMBIREJO: DIBALIK LEGENDA DESAKU




            Sambirejo adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Trenggalek yang terdiri dari 15 RT, 5 RW, dan 5 dusun. Sambirejo memiliki pemandangan alam yang indah karena terdapat hamparan sawah yang luas dan sebuah gunung yang apabila kita mendaki sampai puncak kita dapat melihat Kota Trenggalek dari atas.
Gunung tersebut diberi nama Gunung Kebo, diceritakan pada zaman dahulu saat gunung tersebut akan meletus semua orang sangat ketakutan dan panik. Melihat itu semua ada seseorang yang cukup disegani memberi usul untuk mengatasi agar gunung tersebut tidak jadi meletus dengan cara menutupi gunung tersebut dengan karung atau dalam bahasa jawa disebut “kebo”. Lalu semua orang menyetujui pendapat itu dan mereka semua berbondong – bondong menutupi gunung tersebut dengan karung, dan benar saja tak berselang lama gunung tersebut berhenti mengeluarkan asap dan gemuruh. Karena kejadian itu gunung tersebut diberi nama Gunung Kebo.
Bukan hanya itu Gunung Kebo juga menyimpan banyak misteri sejarah yang dapat membuat penasaran dan bulu kuduk merinding. Karena penasaran dengan hal itu saya melakukan penelusuran dan mencari jejak – jejak sejarah yang masih tersisa. Agar tidak terjadi hal – hal yang tidak diharapkan saya meminta kedua teman saya menemani mendaki. Pertama, kami bertiga mencari tahu keberadaan peninggalan sejarah itu dengan bertanya kepada seorang pencari rumput, setelah mengetahui tempatnnya kami segera bergegas mendaki. Kami harus melewati sungai kecil yang indah karena memiliki air terjun dan bebatuan yang menakjubkan, saat melewati sungai ini kita harus berhati – hati karena tempatnya dikelilingi tebing yang memiliki tanah mudah longsor dan sangat licin. Setelah itu kita mendaki bukit dengan dikelilingi pohon yang sangat rimbun, dan disinilah suasana mencekam dan menakutkan mulai terasa karena bukan hanya tidak ada seorangpun selain kita bertiga tapi disini sangat gelap dan pengap. Seperti yang diceritakan pencari rumput tersebut disini terdapat bangunan masjid yang belum jadi, masjid tersebut di bangun oleh ulama yang menyebarkan agama islam pada zaman dahulu di Sambirejo, karena mendapat tentangan dan gangguan dari masyarakat Desa Sambirejo ulama tersebut meninggalkan desa meski masjid yang dia bangun tersebut belum jadi. Bukan hanya masjid tapi katanya juga ada batu yang berbentuk seperti lesung dan congklak atau dalam bahasa jawa disebut “watu dakon”. Dengan informasi itu kita mencari dengan teliti, dari kejauhan terlihat bangunan yang belum jadi di samping pohon beringin yang sangat besar dan terlihat angker, ternyata bangunan itu adalah masjid yang kita cari dan berjarak sekitar sepuluh meter dari masjid itu terdapat batu lesung lengkap dengan alunya. Tapi sayang kita tidak bisa menemukan batu yang berbentuk congklak. Dan karena suasana semakin menakutkan kami bertiga memutuskan untuk kembali pulang kerumah.
Ada satu lagi sejarah yang ada di desaku yaitu “Makam Eyang Kamdi”. Eyang Kamdi adalah seorang yang sangat agamis dan berjasa dalam penyebaran agama islam di Sambirejo. Beliau berperawakan tinggi besar dengan kulit gelap. Pada awalnya semua orang menganggap bahwa Eyang Kamdi adalah orang yang tidak waras karena tidak memiliki tempat tinggal, namun pada saat beliau meninggal keajaiban terjadi. Yaitu makanan yang di sediakan saat pemakamannya tidak habis – habis meskipun semua orang telah memakannya. Dan mulai sejak itu semua orang sangat menghormatinya meski beliau telah meninggal.
Nah itu tadi adalah legenda yang ada didesaku, terlepas benar atau tidaknya kisah itu kita sebagai generasi penerus bangsa harus tetap melestarikannya dengan cara tidak merusak alam peninggalan leluhur. Dengan itu kita dapat hidup selaras dengan alam karena dengan kita menjaga alam maka alam juga akan menjaga kita dari bencana – bancana.
Dan untuk orang yang religius, di Masjid dan Pondok Pesantren  Hidayatul Mubtadiin di Desa Sambirejo ada pengajian rutin yang diadakan tiap tahunnnya. Juga untuk pencinta solawat biasanya juga digelar lomba solawat dan kegiatan yang berbau islam lainnya.
Dengan semua potensi yang desa saya miliki saya harap kepada pemerintah agar lebih memperhatikan sarana publik yang ada di Sambirejo seperti jalan yang rusak segera dibenahi karena apabila musim hujan seperti sekarang ini jalan yang rusak dapat menimbulkan kecelakaan di tambah lagi ada beberapa jalan yang masih belum terdapat lampu jalannya, fasilitas seperti pengobatan gratis juga masih belum ada di desa saya dan masih banyak masyarakat dengan usia lanjut yang kurang mampu membutuhkan bantuan finansial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar