Sambirejo adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan
Trenggalek yang terdiri dari 15 RT, 5 RW, dan 5 dusun. Sambirejo memiliki
pemandangan alam yang indah karena terdapat hamparan sawah yang luas dan sebuah
gunung yang apabila kita mendaki sampai puncak kita dapat melihat Kota
Trenggalek dari atas.
Gunung
tersebut diberi nama Gunung Kebo, diceritakan pada zaman dahulu saat gunung
tersebut akan meletus semua orang sangat ketakutan dan panik. Melihat itu semua
ada seseorang yang cukup disegani memberi usul untuk mengatasi agar gunung
tersebut tidak jadi meletus dengan cara menutupi gunung tersebut dengan karung
atau dalam bahasa jawa disebut “kebo”. Lalu semua orang menyetujui pendapat itu
dan mereka semua berbondong – bondong menutupi gunung tersebut dengan karung,
dan benar saja tak berselang lama gunung tersebut berhenti mengeluarkan asap
dan gemuruh. Karena kejadian itu gunung tersebut diberi nama Gunung Kebo.
Bukan
hanya itu Gunung Kebo juga menyimpan banyak misteri sejarah yang dapat membuat
penasaran dan bulu kuduk merinding. Karena penasaran dengan hal itu saya
melakukan penelusuran dan mencari jejak – jejak sejarah yang masih tersisa.
Agar tidak terjadi hal – hal yang tidak diharapkan saya meminta kedua teman
saya menemani mendaki. Pertama, kami bertiga mencari tahu keberadaan peninggalan
sejarah itu dengan bertanya kepada seorang pencari rumput, setelah mengetahui
tempatnnya kami segera bergegas mendaki. Kami harus melewati sungai kecil yang
indah karena memiliki air terjun dan bebatuan yang menakjubkan, saat melewati
sungai ini kita harus berhati – hati karena tempatnya dikelilingi tebing yang
memiliki tanah mudah longsor dan sangat licin. Setelah itu kita mendaki bukit
dengan dikelilingi pohon yang sangat rimbun, dan disinilah suasana mencekam dan
menakutkan mulai terasa karena bukan hanya tidak ada seorangpun selain kita
bertiga tapi disini sangat gelap dan pengap. Seperti yang diceritakan pencari
rumput tersebut disini terdapat bangunan masjid yang belum jadi, masjid
tersebut di bangun oleh ulama yang menyebarkan agama islam pada zaman dahulu di
Sambirejo, karena mendapat tentangan dan gangguan dari masyarakat Desa
Sambirejo ulama tersebut meninggalkan desa meski masjid yang dia bangun
tersebut belum jadi. Bukan hanya masjid tapi katanya juga ada batu yang berbentuk
seperti lesung dan congklak atau dalam bahasa jawa disebut “watu dakon”. Dengan
informasi itu kita mencari dengan teliti, dari kejauhan terlihat bangunan yang
belum jadi di samping pohon beringin yang sangat besar dan terlihat angker, ternyata
bangunan itu adalah masjid yang kita cari dan berjarak sekitar sepuluh meter
dari masjid itu terdapat batu lesung lengkap dengan alunya. Tapi sayang kita
tidak bisa menemukan batu yang berbentuk congklak. Dan karena suasana semakin
menakutkan kami bertiga memutuskan untuk kembali pulang kerumah.
Ada
satu lagi sejarah yang ada di desaku yaitu “Makam Eyang Kamdi”. Eyang Kamdi
adalah seorang yang sangat agamis dan berjasa dalam penyebaran agama islam di
Sambirejo. Beliau berperawakan tinggi besar dengan kulit gelap. Pada awalnya
semua orang menganggap bahwa Eyang Kamdi adalah orang yang tidak waras karena
tidak memiliki tempat tinggal, namun pada saat beliau meninggal keajaiban
terjadi. Yaitu makanan yang di sediakan saat pemakamannya tidak habis – habis
meskipun semua orang telah memakannya. Dan mulai sejak itu semua orang sangat
menghormatinya meski beliau telah meninggal.
Nah
itu tadi adalah legenda yang ada didesaku, terlepas benar atau tidaknya kisah
itu kita sebagai generasi penerus bangsa harus tetap melestarikannya dengan
cara tidak merusak alam peninggalan leluhur. Dengan itu kita dapat hidup selaras
dengan alam karena dengan kita menjaga alam maka alam juga akan menjaga kita
dari bencana – bancana.
Dan
untuk orang yang religius, di Masjid dan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin di Desa Sambirejo ada
pengajian rutin yang diadakan tiap tahunnnya. Juga untuk pencinta solawat
biasanya juga digelar lomba solawat dan kegiatan yang berbau islam lainnya.
Dengan
semua potensi yang desa saya miliki saya harap kepada pemerintah agar lebih
memperhatikan sarana publik yang ada di Sambirejo seperti jalan yang rusak
segera dibenahi karena apabila musim hujan seperti sekarang ini jalan yang
rusak dapat menimbulkan kecelakaan di tambah lagi ada beberapa jalan yang masih
belum terdapat lampu jalannya, fasilitas seperti pengobatan gratis juga masih
belum ada di desa saya dan masih banyak masyarakat dengan usia lanjut yang
kurang mampu membutuhkan bantuan finansial.